Pura Puseh Batuan: Monumen Sejarah di Desa Batuan
Ketika melintasi jalur Desa Batuan, anda pasti sudah akrab dengan keberadaan Pura Puseh Batuan. Setiap hari wantilan di seberang pura selalu dipenuhi wisatawan yang ingin berkunjung ke pura dengan ukiran gaya klasik tersebut. Pura tersebut merupakan sebuah cagar budaya yang menyimpan nilai historis yang berharga.
Pura ini secara konsepsi adalah Pura Desa Bale Agung dan Puseh yang berada dalam satu area. Keberadaan ini erat seperti hubungan antara hati dan empedu yang menempel dalam organ manusia, hati atau Pura Desa sebagai setana Dewa Brahma dan empedu yakni Pura Puseh sebagai setana Dewa Wisnu.
Sejarah pura ini sejalan dengan Prasasti Baturan yang berangka tahun 944 Saka. Jika dicari padanannya dalam tahun masehi menjadi 26 Desember 1022 masehi. Bahkan ada kemungkinan pura ini sudah ada sebelum masa itu
Pura ini menjadi tanggung jawab warga Desa Adat Batuan. Pelaksanaan upacara piodalan dibedakan menjadi odalan sepen dan nadi. Perbedaan kedua jenis odalan itu terletak pada tingkat upacaranya, jika odalan sepen hanya diselesaikan pemangku dengan banten sederhana, sedangkan odalan nadi menggunakan banten yang lebih besar. Odalan pura ini dilangsungkan setiap Tumpek Wariga, walaupun ada tuturan yang menyebut piodalan Pura Desa digelar pada Buda Kliwon Gumbreg.
Peninggalan sejarah yang bisa dilihat di pura ini di antaranya gapura pemedalan di Pura Puseh, serta ada sejumlah arca dan ornamen-ornamen lain yang berada di lingkungan pura. Sementara para wisatawan, terutama wisatawan asing sering kali tertarik dengan keberadaan ukiran dan patung yang ada di pura. Ukiran yang bisa dilihat mulai dari ragam motif fauna dan flora menimbulkan kesan klasik dan estetik.
Mengenai bangunan suci yang ada di Pura Puseh, dapat dijumpai sebuah gedong setana Ratu Saung, Ratu Ngelurah, Taksu, Gedong Tarib, Peliangan, Gedong Sari tumpang 2, setana Ida Ratu Atma dengan batu di atasnya, Padmasana, Meru tumpang 3, Gedong Kehen dengan tumpang tiga, Paingkupan, pelinggih Ida Ratu Pande dan Ida Ratu Selimpet. Pelinggih Ratu Pande dan Ratu Selimpet ini juga menyimpan sejumlah arca tinggalan. Bangunan lainnya di areal Pura Puseh meliputi Pengias Agung, Bale Pelik, Tiang Sanga, Bale Pesantian, Paselang, Lumbung, setana Lingga Yoni dan Ratu Minyak. Biasanya pada sasih Kalima diadakan tabuh rah di depan pelinggih Ratu Saung.
Berikutnya Pura Desa juga memiliki pelinggih tersendiri, yakni Pengaruman Ratu Desa, Pesimpangan Ratu Batukaru, Pasimpangan Ratu Batur, Gedong Ngelurah Gumi dan sebuah batu alam yang cukup besar. Di depan Pura Desa terdapat Bale Agung dengan pelinggih gedong dan meru tumpang 2. Pelinggih di utara Bale Agung itu sebagai stana Sang Hyang Sri dan Tri Upasedana.
Pada kori agung terdapat dua Sedahan Apit dengan arca yang diletakkan bernaung sebuah bale, sedangkan di sudut timur lautnya terdapat pelinggih Ratu Balang Tamak. Paling timur di halaman tengah itu terdapat sebuah pura milik klan. Selain itu juga terdapat Bale Pagambuhan.
Selain wisatawan, tak jarang juga ada umat yang sengaja kemari untuk melakukan persembahyangan.
0 komentar:
Posting Komentar