Sinopsis Kakawin Smaradahana, Kisah Terbakarnya Sang Dewa Asmara
Diceritakan Dewa Siwa sedang melakukan tapa dengan tekun di gunung Meru, beliau tidak peduli terhadap apapun, bahkan terhadap segala sesuatu yang menarik atau memikat panca indra, termasuk istrinya, yakni Dewi Uma. Pada saat itu, Kahyangan mengalami gangguan dari Nilarudraka, raja raksasa dari Senapura. Para dewa mengadakan rapat dan Dewa Indra menjelaskan tentang gentingnya keadaan. Dewa Brahma dan Wisnu merasa cemas dan tidak berdaya akan keadaan tersebut, sehingga hanya Dewa Siwa yang mampu menyelamatkan kahyangan dari ancaman musuh, namun tapa Dewa Siwa membuatnya tidak dapat didekati. Bhagawan Wrhaspati sebagai penasehat para dewa mengusulkan agar Dewa Kama mengobarkan hati Dewa Siwa dengan rasa asmara terhadap Dewi Uma, apabila hal tersebut berhasil, maka para dewa akan berusaha menampilkan mahluk berkepala gajah di depan Dewi Uma sehingga dapat mempengaruhi janin yang dikandungnya.
Dewa Kama menengok istrinya, Dewi Ratih serta
menceritakan rencana para dewa tersebut. Dewi Ratih tidak diajak ikut sebab
perjalanan sangat sukar untuk menuju gunung pertapaan Dewa Siwa. Dewi Ratih
mendapatkan firasat-firasat buruk akan rencana para dewa, terlebih dia
menganggap Dewa Indra tidak bisa dipercayai kejujurannya, namun setelah dihibur
oleh Dewa Kama, rencana itu dapat dilanjutkan.
Pada awal bulan keempat, Dewa Kama berangkat ditemani
oleh para dewa dan rsi, setibanya di Gunung Meru, mereka melihat pohon darsana
yang menaungi Dewa Siwa yang sedang bertapa. Dua raksasa penjaga, yakni
Nandiswara dan Mahakala berusaha menakuti mereka, tetapi dapat ditentramkan
oleh para rsi. Dewa Kama kemudian berkonsentrasi dan mengarahkan berbagai macam
senjata berbentuk bunga kehadapan Dewa Siwa yang sedang bertapa. Dewa Siwa
tidak bergeming sedikit pun akibat serangan Dewa Kama, senjata Dewa Kama malah
berubah menjadi kalung gelang dan berbagai perhiasan. Dewa Kama menjadi geram,
kemudian memusatkan pikiran dan mengeluarkan senjata panah berbentuk bunga
dengan perpaduan segala macam kekuatan panca indriya yang lebih hebat dari
senjata sebelumnya, panah itu dilemparkan kepada Dewa Siwa, dan pas mengenai
sasaran menembus hati Dewa Siwa.
Dewa Siwa menjadi terkantuk akibat senjata itu, hingga
dalam mimpinya ia melihat Dewi Uma dipangkuannya, sesaat kemudian Dewa Siwa
tersadar dari kantuk dan melihat Dewa Kama berdiri di depannya. Dewa Siwa
menjadi murka dan mengeluarkan api untuk membakar Dewa Kama. Dewa Kama
berteriak-teriak meminta pertolongan yang sudah dijanjikan, namun semua dewa
telah lari meninggalkannya. Pada akhirnya Dewa Kama mengucapkan salam
perpisahan kepada Dewi Ratih dan raganya hangus terbakar akibat api yang
dipancarkan Dewa Siwa.
Dewa Indra yang pergi dengan ketakutan ditegur oleh
Bhagawan Wrhaspati karena perbuatannya yang pengecut dan ingkar janji. Mereka
bersama-sama dengan para dewa kemudian kembali ke tempat Dewa Siwa untuk
memohon agar Dewa Kama dihidupkan kembali. Para rsi memuja Dewa Siwa dengan
mantra-mantra sebagai dewa yang nampak dalam segala sesuatu yang ada dan
merupakan tujuan segala mahluk yang mendambakan pelepasan terakhir, serta
sebagai dewa pencipta alam semesta. Pujian tersebut dapat meredakan kemurkaan
Dewa Siwa. Para dewa kemudian menjelaskan perihal alasan Dewa Kama melakukan
perbuatan lancang tersebut, bahwasanya Dewa Siwa memberi anugrah kepada
Nilarudraka bahwa raksasa itu tidak akan kalah kecuali oleh putra Siwa sendiri,
sehingga para dewa melakukan semua ini untuk mengingatkan Dewa Siwa, pun mereka
meminta agar Dewa Siwa menghidupkan kembali Dewa Kama, mengingat dunia ini akan
rusak tanpa adanya cinta asmara. Dewa Siwa menyetujui hal tersebut, namun Dewa
Kama akan dihidupkan dalam bentuk suksma, yakni bentuk tersembunyi dan bukan
jasmani lagi, selain itu para rohaniwan tidak diperkenankan menghiasi
telinganya dengan bunga, sebab bunga adalah wujud anak panah yang pernah
menganggu tapa Dewa Siwa.
Para dewa kemudian mohon pamit, kecuali Dewa Indra
yang tetap tinggal disana dengan sisa abu yang masih berasap. Abu itu menyapa
Dewa Indra dan menegaskan bahwa Dewa Kama mengorbankan diri bagi para dewa, dan
tetap merupakan sahabat serta penolong di masa akan datang. Dewa Indra didesak
untuk menengok serta menahan Dewi Ratih agar tidak menceburkan diri ke api
karena rasa duka cita akibat kematian Dewa Kama. Setelah ditinggal pergi oleh
Dewa Kama , Dewi Ratih selalu murung, tidak tidur, dan selalu terngiang oleh
suara ratapan dan tangis. Dewi Ratih mencela para dewa yang dikatakannya
sengaja menggiring Dewa Kama kepada maut. Dewi Ratih menyatakan tekadnya untuk
mengikuti suaminya ke alam baka, sehingga Dewi Ratih ditemani oleh pelayannya
berangkat menempuh perjalanan panjang untuk mencapai tempat Dewa Kama.
Sesampainya disana, Dewa Ratih menjumpai abu sisa Dewa Kama, dengan ratapan
Dewi Ratih menyapa suaminya itu dan menegaskan kesetiaanya yang tidak pernah
goyah. Api kemudian kembali berkobar, seolah-olah melambaikan tangan untuk
mengajak Dewi Ratih bertemu dengan Dewa Kama. Dewi Ratih memurnikan dirinya
dengan yoga, kemudian menerjunkan diri ke api. Dewa Kama dan Dewi Ratih
akhirnya bisa berjumpa, namun dalam wujud tanpa badan, sehingga tidak dapat
bersatu. Akhirnya Kama merasuki hati Siwa dan Ratih merasuki hati Uma.
Semenjak hati Dewa Siwa tertembus panah asmara, cinta
membara pada diri Dewa Siwa, sehingga akhirnya Dewa Siwa meninggalkan tapanya
dan akhirnya beradu asmara dengan Dewi Uma. Para dewa yang mengetahui bahwa
rencananya berhasil, segera datang berkunjung dengan membawa gajah milik Dewa
Indra. Dewi Ratih sangat terkejut dan ketakutan karena gajah itu, sehingga anak
yang dilahirkan memiliki kepala menyerupai gajah. Dewa Siwa menamakan anaknya
Gana, yang ditakdirkan untuk menyingkirkan segala rintangan dan menghancurkan
segala musuh.
Hal tersebut diketahui oleh Nilarudraka, sehingga
memutuskan agar serangan yang sudah direncanakan tidak ditunda lagi. Disertai
oleh pasukannya Nilarudraka menyerang kahyangan, mereka menghancurkan segala
sesuatu yang dilewati. Para dewa kemudian mencari Dewa Siwa dan mencari Gana
yang akan menjadi juru selamat mereka. Berbagai macam mantra dan yoga digunakan
untuk mempercepat pertumbuhan Dewa Gana, kemudian ia dikaruniai senjata dari
surga. Para pasukan telah bersiap untuk menghadapi medan laga. Pertempuran
terjadi dengan dahsyat, pasang surut terjadi diantara kedua belah pihak, saat
terdesak oleh kekalahan, Nilarudraka mengeluarkan kesaktiannya berhadapan
dengan Dewa Gana. Dewa Gana terluka oleh bajra yang merupakan anugrah Siwa
kepada Nilarudraka pada masa lampau, menyebabkan gading sebelah kiri Dewa Gana
terlepas. Ia mengangkat kapak / kutara yang merupakan senjata sakti yang
dianugrahkan kepadanya, dengan kapak itu Dewa Gana memotong tangan, kaki, dan
kepala musuhnya. Dengan amrtha Dewa Gana menghidupkan pasukannya yang telah
gugur sehingga semuanya berteriak Gananjaya. Dunia kembali menemui kedamaian,
semuanya memuji Bhagawan Wrhaspati karena kebijaksanaannya yang menyebabkan
lahirnya juru selamat bagi para dewa, sementara itu Dewa Siwa menjadi penguasa kahyangan
bersama permaisurinya Dewi Uma dan putra-putranya yakni Gana dan Kumara selama
beryuga-yuga lamanya. Sebagai Ardhanareswari, Dewa Siwa memenuhi dambaan semua
orang yang ingin manunggal dengan unsur tertinggi.
Pupuh terakhir dari kakawin ini menceritakan tentang
reinkarnasi Kama dan Ratih. Dewi Uma melihat sisa abu dewa dan dewi asmara,
karena terharu dan penuh rasa terima kasih, Dewi Uma memperoleh janji dari Dewa
Siwa, bahwa Kama dan Ratih akan dilahirkan kembali. Mereka menjadi Namusti dan
Ratnawati dalam Udyani Malawa, reinkarnasi berikutnya Kama menjadi Udayana,
raja Hastina, sedangkan Ratih menjelma kembar menjadi kedua istrinya yakni
Basawada dan Ratnawali. Pada akhirnya, Kama turun menjadi raja Pulau Jawa.
Ratih dilahirkan kembali di Janggala sebagai Kiranaratu, Kama menitis pada Sri
Kameswara yang kemudian menjadi raja di Daha dengan Dewi Kirana sebagai
permaisuri. Akhir dari kakawin ini, pengarang
memohon maaf atas kekeliruannya, serta mengharapkan agar dalam reinkarnasi
berikutnya tidak dilahirkan kembali sebagai seorang kawi, karena menyangkut
sebuah profesi yang melibatkan banyak rasa dan susah.
0 komentar:
Posting Komentar