Mencari...
Jumat, 07 April 2017

Kakawin Smaradahana


Sinopsis Kakawin Smaradahana, Kisah Terbakarnya Sang Dewa Asmara


Diceritakan Dewa Siwa sedang melakukan tapa dengan tekun di gunung Meru, beliau tidak peduli terhadap apapun, bahkan terhadap segala sesuatu yang menarik atau memikat panca indra, termasuk istrinya, yakni Dewi Uma. Pada saat itu, Kahyangan mengalami gangguan dari Nilarudraka, raja raksasa dari Senapura. Para dewa mengadakan rapat dan Dewa Indra menjelaskan tentang gentingnya keadaan. Dewa Brahma dan Wisnu merasa cemas dan tidak berdaya akan keadaan tersebut, sehingga hanya Dewa Siwa yang mampu menyelamatkan kahyangan dari ancaman musuh, namun tapa Dewa Siwa membuatnya tidak dapat didekati. Bhagawan Wrhaspati sebagai penasehat para dewa mengusulkan agar Dewa Kama mengobarkan hati Dewa Siwa dengan rasa asmara terhadap Dewi Uma, apabila hal tersebut berhasil, maka para dewa akan berusaha menampilkan mahluk berkepala gajah di depan Dewi Uma sehingga dapat mempengaruhi janin yang dikandungnya.

Hasil gambar untuk smaradahanaPara dewa kemudian mengunjungi Dewa Kama di kediamannya, setelah disambut dengan hormat, Dewa Indra menjelaskan tentang keadaan yang terjadi serta strategi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mengingat resiko dan bahaya yang teramat besar, Dewa Kama menjadi ragu untuk melakukan tugas yang diminta tersebut, namun setelah Wrhaspati menjanjikan bantuan kepadanya, Dewa Kama menyanggupi tugas tersebut. Kelak tujuh hari mendatang adalah hari yang tepat untuk melangsungkan siasat itu.
Dewa Kama menengok istrinya, Dewi Ratih serta menceritakan rencana para dewa tersebut. Dewi Ratih tidak diajak ikut sebab perjalanan sangat sukar untuk menuju gunung pertapaan Dewa Siwa. Dewi Ratih mendapatkan firasat-firasat buruk akan rencana para dewa, terlebih dia menganggap Dewa Indra tidak bisa dipercayai kejujurannya, namun setelah dihibur oleh Dewa Kama, rencana itu dapat dilanjutkan.
Pada awal bulan keempat, Dewa Kama berangkat ditemani oleh para dewa dan rsi, setibanya di Gunung Meru, mereka melihat pohon darsana yang menaungi Dewa Siwa yang sedang bertapa. Dua raksasa penjaga, yakni Nandiswara dan Mahakala berusaha menakuti mereka, tetapi dapat ditentramkan oleh para rsi. Dewa Kama kemudian berkonsentrasi dan mengarahkan berbagai macam senjata berbentuk bunga kehadapan Dewa Siwa yang sedang bertapa. Dewa Siwa tidak bergeming sedikit pun akibat serangan Dewa Kama, senjata Dewa Kama malah berubah menjadi kalung gelang dan berbagai perhiasan. Dewa Kama menjadi geram, kemudian memusatkan pikiran dan mengeluarkan senjata panah berbentuk bunga dengan perpaduan segala macam kekuatan panca indriya yang lebih hebat dari senjata sebelumnya, panah itu dilemparkan kepada Dewa Siwa, dan pas mengenai sasaran menembus hati Dewa Siwa.
Dewa Siwa menjadi terkantuk akibat senjata itu, hingga dalam mimpinya ia melihat Dewi Uma dipangkuannya, sesaat kemudian Dewa Siwa tersadar dari kantuk dan melihat Dewa Kama berdiri di depannya. Dewa Siwa menjadi murka dan mengeluarkan api untuk membakar Dewa Kama. Dewa Kama berteriak-teriak meminta pertolongan yang sudah dijanjikan, namun semua dewa telah lari meninggalkannya. Pada akhirnya Dewa Kama mengucapkan salam perpisahan kepada Dewi Ratih dan raganya hangus terbakar akibat api yang dipancarkan Dewa Siwa.
Dewa Indra yang pergi dengan ketakutan ditegur oleh Bhagawan Wrhaspati karena perbuatannya yang pengecut dan ingkar janji. Mereka bersama-sama dengan para dewa kemudian kembali ke tempat Dewa Siwa untuk memohon agar Dewa Kama dihidupkan kembali. Para rsi memuja Dewa Siwa dengan mantra-mantra sebagai dewa yang nampak dalam segala sesuatu yang ada dan merupakan tujuan segala mahluk yang mendambakan pelepasan terakhir, serta sebagai dewa pencipta alam semesta. Pujian tersebut dapat meredakan kemurkaan Dewa Siwa. Para dewa kemudian menjelaskan perihal alasan Dewa Kama melakukan perbuatan lancang tersebut, bahwasanya Dewa Siwa memberi anugrah kepada Nilarudraka bahwa raksasa itu tidak akan kalah kecuali oleh putra Siwa sendiri, sehingga para dewa melakukan semua ini untuk mengingatkan Dewa Siwa, pun mereka meminta agar Dewa Siwa menghidupkan kembali Dewa Kama, mengingat dunia ini akan rusak tanpa adanya cinta asmara. Dewa Siwa menyetujui hal tersebut, namun Dewa Kama akan dihidupkan dalam bentuk suksma, yakni bentuk tersembunyi dan bukan jasmani lagi, selain itu para rohaniwan tidak diperkenankan menghiasi telinganya dengan bunga, sebab bunga adalah wujud anak panah yang pernah menganggu tapa Dewa Siwa.
Para dewa kemudian mohon pamit, kecuali Dewa Indra yang tetap tinggal disana dengan sisa abu yang masih berasap. Abu itu menyapa Dewa Indra dan menegaskan bahwa Dewa Kama mengorbankan diri bagi para dewa, dan tetap merupakan sahabat serta penolong di masa akan datang. Dewa Indra didesak untuk menengok serta menahan Dewi Ratih agar tidak menceburkan diri ke api karena rasa duka cita akibat kematian Dewa Kama. Setelah ditinggal pergi oleh Dewa Kama , Dewi Ratih selalu murung, tidak tidur, dan selalu terngiang oleh suara ratapan dan tangis. Dewi Ratih mencela para dewa yang dikatakannya sengaja menggiring Dewa Kama kepada maut. Dewi Ratih menyatakan tekadnya untuk mengikuti suaminya ke alam baka, sehingga Dewi Ratih ditemani oleh pelayannya berangkat menempuh perjalanan panjang untuk mencapai tempat Dewa Kama. Sesampainya disana, Dewa Ratih menjumpai abu sisa Dewa Kama, dengan ratapan Dewi Ratih menyapa suaminya itu dan menegaskan kesetiaanya yang tidak pernah goyah. Api kemudian kembali berkobar, seolah-olah melambaikan tangan untuk mengajak Dewi Ratih bertemu dengan Dewa Kama. Dewi Ratih memurnikan dirinya dengan yoga, kemudian menerjunkan diri ke api. Dewa Kama dan Dewi Ratih akhirnya bisa berjumpa, namun dalam wujud tanpa badan, sehingga tidak dapat bersatu. Akhirnya Kama merasuki hati Siwa dan Ratih merasuki hati Uma.
Semenjak hati Dewa Siwa tertembus panah asmara, cinta membara pada diri Dewa Siwa, sehingga akhirnya Dewa Siwa meninggalkan tapanya dan akhirnya beradu asmara dengan Dewi Uma. Para dewa yang mengetahui bahwa rencananya berhasil, segera datang berkunjung dengan membawa gajah milik Dewa Indra. Dewi Ratih sangat terkejut dan ketakutan karena gajah itu, sehingga anak yang dilahirkan memiliki kepala menyerupai gajah. Dewa Siwa menamakan anaknya Gana, yang ditakdirkan untuk menyingkirkan segala rintangan dan menghancurkan segala musuh.
Hal tersebut diketahui oleh Nilarudraka, sehingga memutuskan agar serangan yang sudah direncanakan tidak ditunda lagi. Disertai oleh pasukannya Nilarudraka menyerang kahyangan, mereka menghancurkan segala sesuatu yang dilewati. Para dewa kemudian mencari Dewa Siwa dan mencari Gana yang akan menjadi juru selamat mereka. Berbagai macam mantra dan yoga digunakan untuk mempercepat pertumbuhan Dewa Gana, kemudian ia dikaruniai senjata dari surga. Para pasukan telah bersiap untuk menghadapi medan laga. Pertempuran terjadi dengan dahsyat, pasang surut terjadi diantara kedua belah pihak, saat terdesak oleh kekalahan, Nilarudraka mengeluarkan kesaktiannya berhadapan dengan Dewa Gana. Dewa Gana terluka oleh bajra yang merupakan anugrah Siwa kepada Nilarudraka pada masa lampau, menyebabkan gading sebelah kiri Dewa Gana terlepas. Ia mengangkat kapak / kutara yang merupakan senjata sakti yang dianugrahkan kepadanya, dengan kapak itu Dewa Gana memotong tangan, kaki, dan kepala musuhnya. Dengan amrtha Dewa Gana menghidupkan pasukannya yang telah gugur sehingga semuanya berteriak Gananjaya. Dunia kembali menemui kedamaian, semuanya memuji Bhagawan Wrhaspati karena kebijaksanaannya yang menyebabkan lahirnya juru selamat bagi para dewa, sementara itu Dewa Siwa menjadi penguasa kahyangan bersama permaisurinya Dewi Uma dan putra-putranya yakni Gana dan Kumara selama beryuga-yuga lamanya. Sebagai Ardhanareswari, Dewa Siwa memenuhi dambaan semua orang yang ingin manunggal dengan unsur tertinggi.

Pupuh terakhir dari kakawin ini menceritakan tentang reinkarnasi Kama dan Ratih. Dewi Uma melihat sisa abu dewa dan dewi asmara, karena terharu dan penuh rasa terima kasih, Dewi Uma memperoleh janji dari Dewa Siwa, bahwa Kama dan Ratih akan dilahirkan kembali. Mereka menjadi Namusti dan Ratnawati dalam Udyani Malawa, reinkarnasi berikutnya Kama menjadi Udayana, raja Hastina, sedangkan Ratih menjelma kembar menjadi kedua istrinya yakni Basawada dan Ratnawali. Pada akhirnya, Kama turun menjadi raja Pulau Jawa. Ratih dilahirkan kembali di Janggala sebagai Kiranaratu, Kama menitis pada Sri Kameswara yang kemudian menjadi raja di Daha dengan Dewi Kirana sebagai permaisuri.  Akhir dari kakawin ini, pengarang memohon maaf atas kekeliruannya, serta mengharapkan agar dalam reinkarnasi berikutnya tidak dilahirkan kembali sebagai seorang kawi, karena menyangkut sebuah profesi yang melibatkan banyak rasa dan susah.  

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back to top!